Bunda.... Rafi Laper

Bismillahirrohmanirrohim


Merantau,

Tidak pernah sebelumnya saya bayangkan dalam hidup saya, bahwa suatu saat saya akan hidup merantau. Jauh dari orang tua, keluarga, teman- teman, adat kebiasaan dan yang paling nyesek itu harus keluar dari comfort zone hehehe. Baru saya rasakan indahnya kampung halaman, lezatnya masakan asli kampung, serta kerinduan dengan keluarga dan teman- teman ya pada saat saya merantau. Tak lama setelah saya menikah, saya langsung diboyong suami untuk menemani beliau merajut asa di pulau seberang yaitu Pulau Sumatera tepatnya di kota Medan. Sebetulnya kota Medan bukanlah kota yang asing di telinga saya. Karena konon kata orang tua saya, saya dahulu sewaktu kecil pernah mengunjungi kota Medan. Pengalaman yang tidak pernah saya ingat itu sedikit menjadi penenang hati saya yang waktu itu agak paranoid karena harus merantau jauh, dalam batin saya berkata “setidaknya saya dahulu katanya sudah pernah kesana”  . Memang saya dilahirkan di Kabanjahe, sebuah kota kecil yang berjarak kurang lebih 76 kilometer dari pusat kota Medan, saat itu orang tua saya dipindahtugaskan ke kota Kabanjahe. Kemudian saat saya berusia sekitar 4 tahun kami sekeluarga pindah lagi ke Pulau Jawa. Pantaslah saya tidak bisa mengingat momen saat saya mengunjungi kota Medan, because I was just a toddler that time ^^.

Beberapa bulan setelah merantau saya mulai merasakan “homesick” yang berpadu padan dengan “morning sick” karena saat itu saya sedang mengandung putra kami. Mual- mual, nggak doyan makan, nggak sanggup memasak, lidah belum beradaptasi dengan masakan Medan ditambah dengan rindu masakan kampung saat itu menjadi hal yang cukup membuat saya menangis batin huhuhu. Dalam hati saya bertekad “Pokoknya setelah mual- mual ini hilang saya harus belajar masak masakan kampung yang kayak dijual di warung- warung” , nah lho >.<

Singkat cerita garang asem bening ini menjadi salah satu “makanan impian”  yang karena keadaan harus saya wujudkan with my own hands. Akhirnya setelah browsing kesana kemari, serta bermodalkan pengalaman membuat garang asem ketika saya masih duduk di bangku SMP saya bulatkan tekad untuk belajar memasak sendiri garang asem bening impian saya kala itu. Sebenarnya garang asem ini ada 2 versi yaitu versi Solo dengan santan dan versi Kudus yang tanpa santan. Keduanya juga popular di Semarang dan keduanya menurut saya maknyus ^^, namun saya dan suami lebih menyukai versi yang tanpa santan karena lebih segar.

Sesuai namanya “Garang Asem” berarti makanan yang dikukus atau dalam bahasa Jawa digarang yang memiliki cita rasa asam. Makanan ini berbentuk seperti sup dengan isian utama ayam, penggunaan ayam kampung lebih disarankan karena hasilnya akan lebih sedap dibanding dengan ayam broiler, bisa juga menggunakan ayam pejantan atau di Medan populer dengan sebutan ayam kalasan yang bisa dijumpai di supermarket besar,  namun jika tidak menemui kedua jenis ayam tersebut, ayam broiler pun jadi lah ^^. Selain menggunakan ayam, isian juga bisa diganti dengan daging sapi, ikan, atau tahu dan tempe bahkan jamur bagi vegetarian. Bumbu- bumbu yang digunakan juga tergolong mudah didapat, semua bumbu diiris halus lalu dimasak bersama ayam serta air, baru kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus. Nah, makanan yang dibungkus daun pisang, menurut saya memiliki cita rasa yang aduhai. Aroma khas daun pisang yang dikukus akan menambah sensasi kelezatan masakan  yang terbungkus di dalamnya. 

Pada percobaan pertama saya benar-benar membungkus masakan dengan daun pisang dan ternyata repotnya plus susahnya luar biasa, karena kita harus membungkus makanan berkuah dalam jumlah yang banyak, dengan daun berlapis agar tidak bocor. Hasil dari percobaan pertama ini walaupun alhamdulillah sedap, namun perjuangannya membuat saya agak kapok, hahaha. Kemudian atas petunjuk Allah seorang teman berbagi tips kepada saya cara mengurangi kerepotan saat membungkusnya, yaitu skip proses bungkus dengan cara turut memasukkan potongan daun pisangnya kedalam rebusan ayam dan kuahnya. Berhasil, namun saat akan disajikan, potongan- potongan daun tersebut cukup mengganggu. Dari situ Alhamdulillah saya mendapat ide lain yaitu dengan menggunakan sebuah wadah tahan panas yang dilapisi dengan daun pisang untuk mengukus garang asem. Dengan metode ini Alhamdulillah saya bisa sering- sering membuat garang asem tanpa takut repot ^^. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.




Lantas bagaimana dengan asamnya? Rasa asam didalam masakan ini didapat dari penggunaan belimbing wuluh atau belimbing sayur, yang merupakan bahan asal dari asam sunti. Namun jika sulit mendapatkan belimbing wuluh, maka rasa asam bisa diganti dengan penambahan air asam jawa atau air perasan jeruk nipis, InsyaaAllah rasanya tetap enak. Hmm, membayangkannya saja membuat air liur menetes hehe.

Baiklah berikut saya sertakan resep dan cara pembuatannya.

Garang Asem Bening ala Bunda Rafi

Bahan :
1 ekor ayam kampung/pejantan, potong ukuran sedang
600 ml air
5 butir bawang merah, diiris tipis
3 siung bawang putih, diiris tipis
3 buah cabai merah, diiris serong tipis
Cabai rawit utuh sesuai selera
1 buah tomat, iris agak besar
5 buah belimbing wuluh, diiris
Atau bisa diganti perasan air jeruk nipis atau air asam jawa dengan takaran sesuai selera tingkat keasaman
3 cm lengkuas, geprek
1 cm jahe, geprek
2 lembar daun salam
1 batang sereh , geprek
2 lembar daun jeruk
Garam
Gula
Merica bubuk
Minyak untuk menumis

Cara memasak :
1. Panaskan minyak, lalu tumis bawang merah, bawang putih, cabai merah, sebagian cabai rawit, sebagian tomat, jahe, lengkuas, sereh, daun salam, daun jeruk. Tumis hingga harum

2. Masukkan ayam, aduk sampai setengah matang.

3. Masukkan air sedikit demi sedikit, lalu masak dengan api kecil hingga mendidih.

4. Bumbui garam, gula, merica. Kemudian cicipi

5. Masukkan belimbing wuluh / air asam jawa / air jeruk nipis sesuai selera.kemudian koreksi rasa kembali.



6. Matikan api, lalu pindahkan rebusan ayam ke dalam wadah tahan panas yang sudah dilapisi daun pisang.

7. Kukus dengan api kecil minimal 30 menit.

8. Angkat, lalu sajikan dengan nasi hangat.



Catatan : Garang asem lebih sedap jika didiamkan dahulu sebelum dikonsumsi. Misalkan kita masak malam untuk disantap pagi hari, atau kita masak pagi untuk disantap siang. Supaya aroma daun benar- benar berpadu dengan masakan.

Betapa bahagianya ketika jerih payah kita memasak untuk keluarga berakhir dengan piring yang licin tandas ya Bun ^^. Alhamdulillah setiap menu yang satu ini saya hadirkan di tengah- tengah keluarga kecil kami, selalu menghadirkan kesan tersendiri bagi saya. Baik itu karena rasanya yang “ngampung banget” sehingga dengan mencicipinya setidaknya menjadi sedikit pengobat rindu pada kampung halaman. Juga yang paling heartwarming bagi saya adalah bahwa masakan ini yang Alhamdulillah selalu membuat anak saya yang terkadang susah makan berteriak “BUNDA…RAFI LAPEEERR” setiap kali mencium aromanya keluar dari dapur kami.

Demikian sedikit sharing dari saya, semoga bermanfaat.
Wallahu ‘alam bishawab

Ditulis di Semarang

_MomRafi❤_


Komentar

  1. Ayam pejantan opo mba? Kita kalo di pajak = pasar di medan kan kalo ga beli ayam kampung, beli ayam potong = eropa mba, atau ayam tua = merah (ayam penelor yg telurnya disebut telur ayam eropa) . Kalau supermarket baru ada broiler.

    Nah...kalau di Medan garang itu = gagah tapi bikin nyali juga ciut, 😁

    BalasHapus
  2. ya ampun maaaak, aku jadi ikutan lapar ini sampe ngences >.< etapi agak ribet ya ihihi, namun gak seribet pengolahan aselinya yak, aku ikut petunjuk emak rafi aja deh, pun belum tau kapan masaknya wkwkw, makasi sharingnya ya mak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Note to Myself